"KEMBALILAH ke Kodrat Asal," Gus Miftah Soal Wasiat Dorce Gamalama Ingin Dimakamkan Seperti Wanita


Pendakwah Gus Miftah menanggapi keinginan dan wasiat Dorce Gamalama yang ingin dimakamkan sebagai perempuan.

Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji itu membeberkan mengenai hukum islam soal proses penguburan jenazah wanita dan laki-laki.

Diketahui, artis senior Dorce Gamalama saat ini sedang menjalani proses pemulihan karena sakit diabetes.

Akibat penyakitnya itu, Dorce Gamalama saat ini kakinya sebelah kanan tidak bisa jalan lagi setelah ia jatuh dari toilet.

Melihat kondisinya yang semakin memprihatinkan, Dorce Gamalama merasa umurnya tak akan panjang.

Maka dari itu, Dorce memberi wasiat kepada anaknya, jika kelak meninggal dunia, ia ingin dimakamkan sebagai perempuan.

Hal itu lantaran saat ini status Dorce Gamalama sudah tercatat sebagai perempuan.

"(Dimakamkan) sebagai saya sekarang. Karena saya memang after operation saya perempuan, saya punya kelamin perempuan, mandikan saya dengan pakaian perempuan," ungkap Dorce Gamalama, dikutip TribunnewsBogor.com dari Youtube CURHAT BANG Denny Sumargo, Minggu (23/1/2022) yang lalu

"Karena saya 'kan enggak pakai jas, saya 'kan enggak pakai (pakaian) pengantin, jadi 'kan pakai kafan." lanjutnya lagi.

Tak hanya itu, Dorce Gamalama pun sudah menyiapkan kain kafan hingga tanah kuburnya sendiri.

Lokasi kuburan Dorce Gamalama ini nantinya aka berada di dekat masjid yang pernah dibangunnya.

"Saya udah bilang sama anak-anak, saya bilang 'kamu jangan sakiti mama, karena umur mama enggak panjang'. Karena saya kan punya kain kafan sendiri, saya punya kuburan sendiri," cerita Dorce Gamalama.

"Di rumah saya di Lubang Buaya, itu mesjid. Di sebelahnya, itu rumah saya pulangnya (tempat peristirahatan terakhir)," sambungnya.

Menanggapi soal wasiat terakhir Dorce Gamalam, Gus Miftah yang merupakan seorang pendakwah pun ikut angkat bicara.

Hal itu ia ungkapkan di kanal YouTube OFFICIAL NITNOT.

Awalnya, Gus Miftah terlebih dulu mendoakan kesembuhan Bunda Dorce.

"Pertama saya mendoakan Bunda Dorce sembuh, kondisinya membaik, dan kembali beraktivitas," ujar Gus Miftah, dikutip TribunnewsBogor.com, Jumat (28/1/2022).

"Pertama saya mendoakan Bunda Dorce sembuh, kondisinya membaik, dan kembali beraktivitas," ujar Gus Miftah

Kemudian ia menanggapi wasiat yang diberikan Dorce Gamalama terkait penguburan dirinya dengan jenis kelamin perempuan.

Menanggapi wasiat Dorce Gamalama itu, ia menyatakan jika dirinya akan mencoba menelaahnya secara hukum Islam.

"Jadi begini, kita lihat dulu status transgender dalam Islam. Jadi, ini memang sangat kontroversi ya, artinya persoalan transgender ini menjadi diskusi yang tidak pernah ada ending-nya," ungkap Gus Miftah.

Menurut Pimpinan Ponpes Ora Aji itu, jenis kelamin itu hanya ada 2, yakni laki-laki dan perempuan.

Meski begitu, dalam hukum Fiqih, ada jenis kelamin yang dinamakan khunsa.

"Jadi yang pertama, dalam Surat Al Hujurat itu, Allah menciptakan kelamin itu cuma ada dua, jadi jenis laki-laki dan perempuan. Kemudian dalam fiqh itu ada jenis kelamin yang ketiga namanya, Khunsa," imbuh dia.

Khunsa itu orang yang memiliki 2 alat kelamin, seperti yang dialami Aprilia Santi Manganang, atau Aprilio Manganang.

Khusus untuk khunsa ini, pemilihan jenis kelamin harus sesuai dengan analisa medis, tidak boleh dilakukan hanya karena keinginan si pemilik.

"Persoalannya adalah dia mau dijadikan cewek atau cowok itu harus dengan analisa medis,” ulasnya.

Jika Dorce Gamalama ingin dikuburkan dalam keadaan jenis kelamin perempuan, maka harus ada analisa medis terlebih dahulu yang membuktikan bahwa dirinya adalah perempuan.

"Persoalannya adalah dia mau dijadikan cewek atau cowok itu harus dengan analisa medis," kata Gus Miftah.

Kemudian, Gus Miftah menyinggung soal isu Dorce Gamalama terlahir berjenis kelamin laki-laki.

"Yang saya dengar tentang Bunda Dorce ini, kalau beliau dulu yang saya dengar ya, beliau kan terlahir sebagai laki-laki, kemudian dioperasi transgender menjadi seorang perempuan. Nah, bagaimana kalau kondisi seperti ini?" tutur pendakwah asal Yogyakarta.

Maka dari itu, Gus Miftah mengatakan bahwa secara kodratnya harus dikuburkan dalam keadaan jenis kelamin laki-laki.

"Pengebumiannya sepanjang yang saya tahu, yaitu kembali ke kodrat asal, sesuai saat dulu dia dilahirkan. Artinya kalau dulu dia dilahirkan dalam keadaan laki-laki ya sebaiknya, seyogyanya juga dimakamkan dalam keadaan laki-laki," terang Gus Miftah

"Siapa pun yang lahir (laki-laki atau perempuan), sesuai dengan jenis kelaminnya ya itulah cara dia dimakamkan," tegas Gus Miftah.

Hal ini juga akan berkaitan dengan pengurusan jenazah antara laki-laki dan perempuan.

Pasalnya, jumlah kain kafan untuk lak-laki dan perempuan itu berbeda.

"Soal kain kafan, perempuan jauh lebih banyak. Kemudian soal sholat jenazah niatnya dan lain sebagainya, ini kan berbeda," ujarnya.

Jadi dirinya mengambil kesimpulan bahwa akan cenderung memakamkan jenazah sesuai dengan jenis kelamin saat jenazah dilahirkan.

"Siapa pun yang lahir (laki-laki atau perempuan), sesuai dengan jenis kelaminnya ya itulah cara dia dimakamkan," ujarnya.

Kembali ke masalah permintaan Bunda Dorce, baginya jika memang terlahir sebagai laki-laki, sesuai fiqh harus dimakamkan secara laki-laki.

"Secara fiqh saya pikir tetap kembali ke kodratnya. Kodratnya dia laki-laki ya dimakamkan dengan cara laki-laki,” katanya.

Gus Miftah menjelaskan soal tanggapan berbagai komentar yang datang dari orang-orang yang menyatakan apa pun jenis kelaminnya, cara memakamkannya sama.

"Mungkin orang bilang, kan dimakamkannya sama, ya beda. Kan, dari jumlah kain kafannya laki-laki dan perempuan kan beda, berapa lapisnya kan beda. Terus, kemudian soal niat sholatnya, sholat niat jenazah perempuan dan laki-laki kan juga beda," terangnya.

Menurutnya, cara mendoakan pun akan berbeda.

"Untuk laki-laki doanya menggunakan Allahuma firlahu, kalau cewek menggunakan Allahuma firlaha. Jadi kalau saya ya sesuai dengan kodratnya lah. Beliau dulu terlahir sebagai laki-laki ya meninggalnya ya secara laki-laki,” tambahnya.

Kemudian, Gus Miftah menerangkan jika wasiat yang harus dijalankan adalah wasiat yang tidak melanggar syariat agama.

Jika wasiat tersebut melanggar syariat agama, tidak dapat dilakukan.

"Wasiat itu harus dilaksanakan ketika ada kebaikan di dalamnya, tidak ada kemaksiatan apalagi melanggar syariat. Tapi kalau wasiat itu melanggar syariat, melanggar perintah agama, ya tentunya wasiat itu tidak harus dilakukan," ungkap Gus Miftah.

Sumber: Sripoku

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel