WARNING!! Virus Nipah Potensi Jadi Ancaman Pandemi Berikutnya, Disebut Lebih Berbahaya Ketimbang Virus Corona


Dunia belum bisa mengendalikan virus corona atau Covid-19, kini bakal muncul ancaman pandemi baru dari virus nipah.

Sejak virus corona muncul di Wuhan, China, pada akhir 2019, hingga awal 2021, pandemi Covid-19 belum reda meskipun sejumlah vaksin sudah ditemukan.

Bak gayung bersambung, ilmuwan dunia sedang dikhawatirkan oleh eksistensi virus nipah yang disebut-sebut akan menjadi pandemi berikutnya setelah virus corona.

Dikutip SURYAMALANG.COM dari SONORA.ID (27/1/2021), virus nipah diperkirakan sangat mematikan dan hingga saat ini belum ada vaksin yang mampu menanggulanginya.

Ilmuwan dunia mengatakan bahwa virus nipah memiliki angka kematian cukup tinggi yakni sekitrar 75 persen.

Pada Januari 2020, seorang peneliti bernama Supaporn Wacharapluesadee ditunjuk oleh pemerintah Thailand untuk menganalisis sampel dari penumpang pesawat yang baru tiba dari Wuhan.

Wacharapluesadee adalah pemburu virus kelas pertama.

Ia memimpin Thai Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre, lembaga penelitian yang meneliti penyakit-penyakit infeksi baru (emerging), di Bangkok.

Sepanjang kariernya, Wacharapluesadee dan para koleganya telah meneliti ribuan sampel kelelawar dan menemukan banyak virus baru.

Sebagian besarnya adalah virus corona. Namun tak berselang lama dirinya dan tim menemukan virus nipah.

Virus ini dibawa oleh kelelawar buah, yang merupakan inang alaminya.

"Ini sangat mengkhawatirkan karena belum ada obatnya... dan tingkat kematian yang disebabkan virus ini tinggi," kata Wacharapluesadee.

Dia menemukan, tingkat kematian virus nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung lokasi terjadinya wabah.

Bukan cuma Wacharapluesadee yang khawatir, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melakukan meninjau daftar panjang patogen yang dapat menyebabkan darurat kesehatan masyarakat untuk memutuskan prioritas anggaran riset dan pengembangan mereka.

Mereka fokus pada patogen yang paling mengancam kesehatan manusia, yang berpotensi menjadi pandemi, sementara hingga saat ini virus nipah masuk dalam 10 besar virus yang diperhitungkan.

Karena sejumlah wabah sudah terjadi di Asia, kemungkinan besar kita masih akan menemuinya di masa depan.

Ada beberapa alasan yang membuat virus Nipah begitu mengancam.

Periode inkubasinya yang lama (dilaporkan hingga 45 hari, dalam satu kasus) berarti ada banyak kesempatan bagi inang yang terinfeksi, tidak menyadari bahwa mereka sakit, untuk menyebarkannya.

Dapat menginfeksi banyak jenis hewan, menambah kemungkinan penyebarannya.

Dapat menular baik melalui kontak langsung maupun konsumsi makanan yang terkontaminasi.

Seseorang yang terinfeksi virus nipah dapat mengalami gejala-gejala pernapasan termasuk batuk, sakit tenggorokan, meriang dan lesu, dan ensefalitis, pembengkakan otak yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan kematian.

Singkatnya, ini adalah penyakit yang sangat berbahaya bila tersebar. (SONORA.ID)


Varian Baru Virus Corona Sudah Menjalari Asia Tenggara

Benua Asia kini sudah terpapar varian baru virus corona, bahkan sudah sampai kawasan Asia Tenggara.

Indonesia yang masuk dalam kawasan Asia Tenggara, hingga kini belum ditemukan kasus varian baru virus corona atau Covid-19.

Namun, dua negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara, Malaysia dan Singapura, dilaporkan sudah terkena varian baru virus corona.

Kemunculan varian baru virus corona SARS-CoV-2 yang pertama kali ditemukan di Inggris disebut lebih menular.

Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban, mengatakan varian baru virus corona B117 ini dapat mencapai 71 persen lebih cepat.

Meski begitu, ia mengatakan varian baru virus corona atau Covid-19 ini tidak lebih mematikan.

"Kita lihat virus yang baru ini menular lebih cepat 71 persen dari virus sebelumnya."

"Itu yang harus kita ingat. Para ahli juga yakin memang virus B117 mudah menular, namun tidak lebih mematikan," ujar Zubairi, Selasa (29/12/2020).

Mutasi virus yang ditemukan di Inggris ini telah menyebar ke sejumlah negara, termasuk di benua Asia.

Berikut enam negara di Asia yang telah melaporkan adanya kasus varian baru virus corona:


1. India

India telah melaporkan enam kasus varian baru virus corona yang pertama kali muncul di Inggris.

Keenam pasien yang terinfeksi virus kembali ke India dari Inggris.

Kementerian Kesehatan India mengatakan, seluruh kasus yang teridentifikasi telah dikarantina.

"Semua pasien ini telah dikarantina dalam ruang isolasi tunggal di fasilitas perawatan kesehatan yang ditunjuk oleh Pemerintah Negara Bagian masing-masing," ujar Kementerian Kesehatan India.

Sementara itu, orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien juga telah dikarantina.

Kini, otoritas kesehatan India tengah memantau ketat dengan ditemukannya kasus varian baru ini.

2. Singapura

Pada 23 Desember 2020, Kementerian Kesehatan Singapura mengonfirmasi satu kasus mutasi baru virus corona dari Inggris.

Varian baru virus menginfeksi seorang pelajar Singapura berusia 17 tahun yang pulang dari Inggris.

Pasien tersebut tiba di Singapura pada 6 Desember 2020.

3. Jepang

Jepang juga telah mengonfirmasi kasus pertama varian baru virus corona yang sebelumnya teridentifikasi di Inggris.

Kasus ini ditemukan pada lima orang yang tiba di Jepang pada 18-21 Desember 2020, sebelum negara ini memberlakukan pengetatan pengawasan pembatasan bagi para pendatang dari Inggris pada Jumat (25/12/2020).

Empat di antara kasus yang ditemukan tidak mengalami gejala apa pun, sedangkan satu kasus mengeluh kelelahan.

4. Malaysia

Malaysia juga telah mengidentifikasi strain baru Covid-19 yang menyebar di Inggris.

Ini diketahui dari sampel yang diambil dari Sabah.

Sebelumnya, Negeri Jiran telah menemukan mutasi virus corona yang dikatakan memiliki efektivitasnya 10 kali lebih besar daripada strain normal.

5. Lebanon

Lebanon mengumumkan kasus pertama varian baru virus corona, dengan orang yang terinfeksi baru saja kembali dari London, Inggris, pada 21 Desember 2020.

Menanggapi penemuan ini, Menteri Kesehatan Lebanon Hamad Hassan meminta penumpang pada penerbangan yang sama dan keluarga yang bersangkutan berhati-hati dan melakukan karantina selama 10 hari.

Orang yang terinfeksi ini merupakan warga negara Lebanon yang tinggal di Tripoli.

6. Korea Selatan

Kasus pertama varian baru virus corona dari Inggris juga telah dilaporkan ditemukan di Korea Selatan.

Laporan kasus ini dikaitkan dengan tiga orang dalam satu keluarga yang tiba dari London pada 22 Desember 2020.

Ketiga orang ini telah diisolasi sejak dinyatakan positif Covid-19.

Peningkatan kasus yang terjadi di Korea Selatan, membuat pihak berwenang melakukan pengetatan pembatasan hingga awal Januari 2021.

Sumber: suryamalang.tribunnews

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel